Konsultasi Pengobatan
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba
WA: 0822.4610.4034
SMS 08787.882.1248 - 081385386583
Home » , , » TERAPI EAR CANDLE

TERAPI EAR CANDLE

Written By Blogs owner SidikRizal on Senin, 30 November 2009 | 13.18


Terapi Lilin Telinga Atasi Tuli, Migrain, dan Vertigo

Sumber : Suara Pembaruan
Terapi lilin telinga (ear candle) berasal dari suku Indian, penduduk asli Amerika. Lilin telinga terbuat dari sarang tawon dengan linen kualitas tinggi. Lilin telinga ini berbeda dengan lilin yang dikenal sehari-hari, yang terbuat dari parafin.

Panjang lilin telinga 30 sentimeter dan berongga. Sampai saat ini hanya tersedia dua ukuran rongga, yakni 5/8 inci yang digunakan untuk terapi orang dewasa dan ukuran rongga 1/2 inci untuk anak-anak. Bahan terapi ini diimpor dari Amerika Serikat. Bentuknya meruncing dan diberikan tatakan bulat yang terbuat dari karton yang dilapisi alumunium foil, saat lilin itu dibakar.

Terapi dengan menggunakan lilin ini sangat bermanfaat bagi kesehatan, khususnya pendengaran, dan bisa juga menyembuhkan sejumlah penyakit. Dari sekitar 5.600 pasien yang datang sejak pertengahan 2004 sampai saat ini, diketahui terapi telinga bisa menyembuhkan penderita tuli, sekaligus mempertajam pendengaran, vertigo (sakit kepala yang berputar-putar), migrain (sakit kepala sebelah), mengatasi infeksi telinga tengah (otitis media), penyakit telinga berupa nanah kuning kental berbau busuk (congek), tinitus (telinga yang berdengung), sinusitis (infeksi di rongga hidung), serta insomnia (penyakit sulit tidur).

Sebelum diterapi, telinga pasien diperiksa dengan alat bernama otoskop. Dengan alat ini bisa diketahui apakah di gendang telinga sudah menempel jamur, ada bisul atau radang, atau ada kotoran yang mengeras. Kalau di gendang telinga hanya ada jamur, bisul, atau radang, pasien bisa langsung diterapi.

Tetapi kalau ada kotoran yang keras, ditetesi obat untuk melunakkannya, lalu diangkat, kemudian baru diterapi. Saat diterapi, pasien tidur dalam posisi miring-tegak lurus. Lalu, bagian lilin yang runcing (bagian ujung) dimasukkan ke lubang telinga dan bagian pangkalnya dibakar.

Setiap lima menit, lilin yang sudah terbakar digunting, kemudian dibuang di baskom kecil berisi air. Selama terapi ada petugas yang memegang lilin tersebut. Setelah terapi berlangsung 15 menit, lilin yang masih menyala dengan sisa sekitar 5-7 sentimeter diangkat dari telinga, lalu digunting tepat di bawah api.

Sisa lilin yang tidak terbakar dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi kode untuk mengetahui lilin itu digunakan untuk terapi telinga kiri atau telinga kanan. Saat lilin dibakar timbul panas.

Panas itu membuat tekanan udara di pangkal lilin menjadi rendah. Asap dari pembakaran lilin masuk ke seluruh ruang telinga. Dalam waktu tertentu (sekitar 7-10 menit) asap di dalam rongga telinga menjadi jenuh, kemudian terdesak keluar sambil membawa partikel-partikel (kotoran telinga/wax) yang berada di rumah siput (tymphani), serta jamur yang menutup gendang telinga. Dalam beberapa kasus, asap itu bahkan membawa bakteri dan jamur.

Partikel-partikel itu kemudian terkumpul di sisa lilin yang tidak terbakar. Sisa lilin itu kemudian dibelah untuk mengetahui kotoran yang dikeluarkan dari telinga. Wax itu bisa tersedot secara osmosis karena ada perbedaan tekanan di rongga telinga dan di luar telinga. Wax yang disedot berwarna cokelat.

Selain itu, ada juga serbuk berwarna putih kekuning-kuningan. Sebanyak 20 persen serbuk itu berasal dari lilin, sisanya adalah jamur yang ada di atas gendang telinga.

Untuk terapi satu telinga, digunakan minimal dua lilin dan maksimal tiga lilin. Lilin-lilin itu dibakar secara terus-menerus, tanpa jedah. Setelah diterapi, sisa lilin yang menempel di dinding telinga dibersihkan, kemudian rongga telinga dioles dengan antibiotik.

---------------------------------------------

Berikut ini tulisan tentang Ear Candle yang justru dinyatakan tidak memberikan hasil yang nyata.


Dusta Terapi Ear Candling

Minggu, 15-04-2007 20:51:06 oleh: Lita Mariana
Kanal: Kesehatan
Dusta Terapi Ear Candling Ear candling. Lilin yang digunakan adalah lilin berbentuk tabung berdiameter kecil, yang telah direndam dalam beeswax atau parafin dan dibiarkan hingga mengeras. Sesuai namanya, terapi ini dilakukan dengan menyalakan lilin khusus yang diletakkan di liang telinga. Tentu saja 'pasien' harus berbaring miring ke satu sisi, sementara 'terapis' menyalakan lilin dan membiarkannya terbakar selama beberapa menit.

Prosedur ear candling

Lilin dinyalakan. Lilin yang terbakar akan 'dijaga', dengan menggunakan semacam tusuk gigi untuk mempertahankan agar lubang di puncak lilin selalu terbuka selama proses berlangsung. Setelah lilin dimatikan dan disingkirkan, sebungkah kapas padat digunakan untuk membersihkan kotoran telinga yang nampak, dan seringkali diperoleh 'minyak telinga' (ear oil).
Beberapa praktisi meletakkan lilin yang masih panas itu di dalam semangkuk air, dan mengklaim bahwa semua yang ada di dalamnya -yang bukan beeswax- adalah kotoran telinga, kulit mati, residu obat, atau 'peninggalan' infeksi ragi di waktu lalu (yang kesemuanya belum ada buktinya).
Prosedur terapi ini mestinya menciptakan kehampaan ringan (hampa dalam artian tekanan udara di bawah tekanan udara atmosferik/ruang), yang dapat menarik kotoran telinga (earwax, cerumen) keluar dari liangnya.

Apa yang diklaim?

Sesuai yang saya lihat di televisi, terapi ini mengklaim mampu melakukan sesuatu pada sinus, membersihkan kotoran, melegakan, dan mengurangi sakitnya. Katanya pula, penderita sinusitis rongga hidungnya basah (??), dan terapi ini dapat membuka salurannya.
Terus terang saya kurang mengerti. Ya kata-katanya, ya klaimnya. Mungkin ini karena reporternya (yang menjalani terapi) yang bercerita, bukan terapisnya.
Beberapa pendukungnya mengklaim bahwa pengotor (impurities) dapat disingkirkan dari telinga bagian dalam, sinus fasial (rongga sinus di daerah wajah), atau bahkan otak (hah?!), yang kesemuanya entah bagaimana terhubung ke liang telinga.
He? Ada kanal dari otak saya ke telinga? Astaga. Mungkin saya jangan terlalu keras belajar, menjadi pintar, dan berotak encer. Nanti malah meleleh ke luar dan saya rugi. Ups. Maaf. Hiperbolik.

Dia mengatakan bahwa candling akan menyingkirkan ragi dan membersihkan sinus. Dia juga bilang, khususnya jika kita hidup di lingkungan perkotaan, candling akan membantu mengeluarkan banyak kotoran dan polutan yang dapat terakumulasi di dalam telinga. [Testimony of an injured victim]
Hampir semua paket pengarahan mengindikasikan bahwa telinga akan terasa hangat (tidak panas) dan pengalaman ini akan menenangkan, bahkan bagi jiwa.

Uji skeptis

Berikut adalah kutipan dari artikel tentang ear candling di Quackwatch:
Suatu pameran menggelar ear candling seharga $30. Orang-orang yang 'menjual' ini berkata bahwa pengisapan oleh lilin dapat 'menjernihkan pikiran dan sinus'. Saya bertanya-tanya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar memaksudkan penjernihan tersebut secara literal, bahwa telinga adalah sebuah bukaan dari otak dan sinus. Seorang perempuan yang menjadi pelaksana menyatakan, "(Terapi ini) membersihkan seluruh kepala, otak, dan semuanya - mereka semua terhubung, kau tahu".
Candling dilakukan di meja depan kios, sehingga wajah-ingin-tahu orang yang menjalani 'terapi', yang telinganya ditancap lilin menyala, menarik perhatian banyak pengunjung. Selama proses berlangsung, campuran keabuan dari gumpalan dan lelehan wax dikumpulkan dalam sebuah piringan yang diletakkan di bawah lilin.
Campuran tersebut tidak tampak seperti lelehan lilin, namun tampilannya tampak meragukan. Pelanggan diberitahu bahwa campuran itu adalah pengotor yang telah disingkirkan. Dan banyak di antara mereka yang memamerkannya dengan bangga, membandingkan antara miliknya dan milik orang lain, serta memberikan komentar yang meyakinkan.
Untuk menguji ini, Rebecca Long, presiden Georgia Council Against Health Fraud, mencobanya di rumah usai menonton pertunjukan tersebut. Dengan bantuan seorang teman, arahan dari kemasan diikuti dengan cermat.
Ia temukan bahwa candling menghasilkan suara berdesis, yang mirip dengan suara kelomang yang didekatkan ke telinga, namun jauh lebih keras. Namun udara di dalam telinganya menjadi terlalu panas sehingga ia harus menghentikan percobaan.
Selanjutnya, dilakukanlah sebuah percobaan sederhana lainnya: membandingkan hasil kerja ear candling dengan dan tanpa telinga. Dua penyelidik menguji lilin untuk melihat apakah wax yang terkumpul setelah pembakaran seluruhnya berasal dari lilin atau juga mengandung wax yang keluar dari telinga.
Untuk melakukan ini, mereka membakar lilin dan menempatkan ujungnya: (a) di dalam liang telinga, (b) di luar liang telinga, sedemikian rupa sehingga wax yang menetes akan tertampung dalam semangkuk air, dan (c) di dalam liang telinga namun dengan tube penghalang, sedemikian sehingga memungkinkan kotoran telinga bergerak ke dalam tube namun menghalangi wax lilin bergerak turun (ke dalam liang telinga).
Uji ini memberi hasil bahwa semua residu yang terbentuk berasal dari lilin dan tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan.

Ear candling's not working, my dear!

Karena wax bersifat lengket, tekanan negatif (vakum) yang diperlukan untuk menariknya ke luar rongga telinga haruslah sedemikian kuat sehingga dapat merusak gendang telinga pada prosesnya. Bagaimanapun, ternyata prosedur candling bahkan tidak menghasilkan kondisi vakum.
Peneliti yang mengukur tekanan menemukan bahwa tidak tercipta tekanan negatif selama proses candling terhadap relawan. Penyelidik yang sama telah melakukan candling selama 8 tahun dan menemukan bahwa tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan, dan wax lilin justru menumpuk di dalam telinga(!).
Pernyataan bahwa liang telinga terhubung ke struktur di dalam gendang telinga adalah palsu. Liang luar telinga, beserta gendang telinga di dalamnya, tidak terhubung ke otak, sinus (yang menjadi target 'terapi'), ataupun saluran Eustachia (kanal antara telinga tengah dan bagian belakang kerongkongan).
Ada klaim yang menyebutkan bahwa gendang telinga berpori dan dapat melewatkan pengotor dengan cepat. Ini tidak benar. Pengotor yang terdapat di wax yang terkumpul tak lebih dari abu/sisa dari pembakaran lilin dan kerucut penyangganya.

Bahaya ear candling

Candling berisiko terhadap beberapa bahaya, dan yang paling serius adalah terbakar oleh lilin panas. Pembuat lilin mengklaim bahwa lilin mereka hanya akan menetes di bagian luar telinga. Dan anda bisa berkomentar bahwa itu merupakan kecerobohan praktisinya.
Tentu saja ada cara untuk menghindari masuknya tetesan lilin cair ke dalam telinga: posisikan lilin dalam keadaan mendatar. Tapi saran dari produsen ini terdengar konyol. Bagaimana bisa tercipta suasana vakum? Lilin yang mendatar tidak dapat menutup rapat liang telinga pasien yang sedang berbaring miring ke satu sisi.
Sebuah pendataan pada tahun 1996 terhadap 144 dokter THT menemukan bahwa 14 di antaranya didatangi oleh pasien yang terluka oleh 'terapi' lilin ini. Termasuk -setidaknya- 13 kasus luka bakar luar, 7 kasus liang telinga yang tersumbat lelehan lilin, dan 1 kasus gendang telinga yang rusak (bolong, perforated).
Dilaporkan oleh The London Free Press, harian Kanada. Seorang perempuan yang mengalami penyumbatan di hidung dan sakit telinga saat melakukan scuba diving pergi ke sebuah toko 'makanan kesehatan' dan dirujuk ke seorang praktisi candling yang 'diakui'.
Selama 'perawatan', ia merasakan sensasi terbakar yang kuat di telinganya. Di ruang rawat gawat darurat, usaha untuk menyingkirkan tetesan wax yang menempel di gendang telinganya mengalami kegagalan. Operasi dilakukan, dan ditemukan sebuah lubang di gendang telinganya, yang kemungkinan besar terjadi akibat candling.
Untungnya, perempuan tersebut pulih secara penuh dan pendengarannya normal kembali. Praktisi ear candling tersebut meminta maaf, memberikan kompensasi, dan berhenti melakukan praktik ear candling.
Sebagai penutup, inilah penjelasan dari Sandra Yemm, seorang praktisi ear candling, ketika ditanyakan tentang kasus rusaknya gendang telinga yang saya sebutkan tadi:
Ear candling doesn't remove the wax from one's ears. But she says that's not the point: "It doesn't matter whether it's being removed or not because you're going to get some harmony through the changing of the energies and perhaps that's all that's needed."Very funny. Where do you perform the on-stage joke, ma'am?

Konsultasi Pengobatan
HIV/AIDS dan Kecanduan Narkoba
Hotline: 087878821248 

SMS (021)9346.1965 - 081385386583

6 comments:

Bagus YP mengatakan...

Minggu, 15-04-2007 21:36:54 oleh: Bagus YP

Wah..wah..wah... Mbak Lita ini kritis sekali..lengkap dgn data informasi penunjang.. Tapi ngomong-ngomong apa udah pernah nyoba? Ada hasilnya gak? Mengenai ada yg berdampak negatif, tau tdk ada berhasil, kita hrs nanya apa sang terapist udah beber2 prof?? Menurut sy terapist hrs benar2 ahli,mengerti ilmu anatomi, kesehatan, pengobatan. memang pengobatan alternatif ada banyak konsep. Tapi hrs teruji keampuhannya.
Menurut sy nyala lilin hanya membantu mengeluarkan kotoran yg tdk bs diangkat atau keluar. KOtoran dlm telinga kita kan buanyak sekali, termasuk bakteri, jamur, yg bs berkembang biak. Secara anatomi Tuhan menciptakan telinga yang mengeluarkan cairan yg bs membunuh kuman dan membantu keluarnya kotoran.Tanpa diapa2in kotoran keluar sendiri,itu idealnya. Tapi ada kasus2 khusus kotoran (termask jamur,bakteri) tdk bs keluar shg menyebabkan berbagi penyakit, spt migren, sinus, pusing2 mual, krg pendengaran,serta kurang keseimbangan pd otak kecil yg menggaggu proses berpikir dan sakit2 yg lain. Nah dgn lilin yg dibakar,yg sebelumnya telinga ditetesin eardrop (biasanya ramuan khusus) shg kotoran agak lunak & bakteri2 mati.Setelah lilin dinyalain, akibat panas menyebabkan terjadinya perbedaan tekanan dlm teliga,sehingga menarik udara didalamnya (spt proses bekam)dan kotoran2 tsb tersedot menuju lilin (kertas digulung dilapisi lilin) , dan menempellah kotoran tsb kerongga kertas. Setelah kotoran terangkat, menyebabkan teliga lebih enteng,penyakit2 terbuang. Ini logikanya. Tapi sekali lg untuk melakukannya harus bener2 ditangan yg ahli dan paham bener2 masalah pengobatan. Kebetulan sy sdh pernah mencobanya dan memang ada hasilnya.
Bagaimana menurut temen2 laen..

Lita Mariana mengatakan...

Minggu, 15-04-2007 22:17:34 oleh: Lita Mariana

Kalau melihat efek sampingnya sih, saya memilih tidak mencoba.

Betul sekali pak Bagus, harus teruji keampuhannya. Masalahnya, dari berbagai pengujian, keberhasilan terapi ini tidak terbukti, selain hanya dari pengakuan orang yang menjalani terapi.

Dan jika saya tidak salah, suatu pengobatan dinilai valid jika punya landasan ilmiah dan pembuktian yang solid, tidak didasarkan pada pengakuan. Inilah fungsi uji klinis, untuk menyingkirkan pengaruh sugesti, agar hasil uji -sebisa mungkin- netral.

Betul, ada residu. Tapi residu ini asalnya dari lilinnya sendiri. Apakah bapak sudah mencobanya tanpa ditempelkan ke liang telinga?

Dan kalau bapak perhatikan, saya telah menyebutkan, bahwa penyalaan lilin tersebut tidak memberikan perbedaan tekanan yang cukup untuk menarik kotoran ke luar. Jadi bagaimana bisa mengeluarkan apa yang di dalam jika daya penariknya saja tidak cukup?

Rongga sinus tidak berhubungan dengan liang telinga, pak Bagus. Bagaimana saya bisa percaya bahwa kotoran di rongga sinus bisa keluar lewat sana? Bahkan keluar lewat rongga hidung -yang menjadi muara dari rongga sinus- saja tidak bisa jika sinus sudah terlanjur bengkak. *saya pernah menderita sinusitis*

Migren banyak penyebabnya. Psikologis dan kelainan hanya sedikit di antaranya. Kalau migren penyebabnya ada di otak atau pembuluh darah, bagaimana hubungannya dengan membersihkan telinga?

Ketimbang terapi lilin, saya lebih suka datang langsung ke dokter THT. Diberi eardrops, lalu kepala dimiringkan. Keluarlah kotoran tanpa perlu dihisap apapun. Saya bisa melihat lebih jelas bagaimana kotoran yang ada tanpa tercampur lelehan wax/lilin.

Berbagai lembaga resmi di negara maju memperingatkan warganya untuk tidak mencoba terapi ini. Di sini?

Terimakasih telah menanggapi tulisan saya, pak Bagus :)

Bagus YP mengatakan...

Sdh mencoba tanpa ditempelkan teliga,artinya dibakar sendiri dan dilihat sisa kertas,hasilnya warnanya kuning muda. Tapi kalau hasil dr pembakaran ditelinga berwarna coklat tua dan lebih banyak.
Hidung mempunyai hubungan saluran telinga,dan mulut. Contoh paling gampang kalau naik pesawat,kita sering telinga terasa mampet,dgn menguap,plong telinga kembali ketekanan sama dgn ketinggian.
Memang Migren disebabkan byk faktor. Dgn stress (psikologi)terjadi ketegangan disekitar kepala, pembuluh darah ke kepala bisa sedikit tersumbat. "Salah satu" mengurangi sumbatan tsb bisa dgn mengurangi "ketegangan" dikepala, dgn mengurangi tekanan diteliga yg tentu berada dikepala shg membantu mengurangi tegangan tsb. Dlm beladiri seorang bs pingsan jika dipukul dgn telapak tangandi kedua telinganya secara bersamaan (akibat terjadi tekanan diotak).
Hal-hal lain yg bs memberikan efek penyembuhan secara "uji klinis medis barat" sy blm banyak tahu.
Karena menurut sy byk pengobatan tradisional yg tdk bs dilogika medis barat tp punya efek kesembuhan. Spt Akupuntur,titik2 di meridian tdk ada wujudnya secara fisik, tp ada. Dan Akupuntur ada efek sembuhnya dan teruji. DiRS sdh byk ada . Apalagi utk penyakit2 yg tdk bs disembuhkan dgn medis barat.Demikian opini sy semoga bs menambah wacana.

Lita Mariana mengatakan...

Senin, 16-04-2007 08:44:02 oleh: Lita Mariana

Baiklah, saya tidak akan mengutik-utik 'hasil' terapi karena saya tidak menganalisanya sendiri. Saya hanya mengandalkan yang dipaparkan oleh penelitian terdahulu, yang dilakukan oleh yang -jelas, pasti- lebih ahli daripada saya.

Betul, pak Bagus. Telinga berhubungan dengan tenggorokan dan hidung. Dan bagian telinga yang dimaksud adalah bagian tengah. Telinga luar dan dalam dipisahkan oleh membran timpani yang tertutup. Sehingga tidak benar jika liang telinga luar terhubung (langsung) dengan rongga sinus, dan dapat menarik keluar deposit di dalamnya.

Perasaan lega karena hilangnya dengingan adalah karena tekanan udara di bagian telinga tengah -di sebelah dalam membran timpani- sama dengan tekanan udara di mulut (yang berarti juga sama dengan tekanan udara luar), yang dimungkinkan saat rahang bergerak, membuka saluran Eustachia. Bapak bisa melihat gambar di wikipedia, yang link-nya sudah saya sediakan.

Pak Bagus sudah mengatakan sendiri, bahwa migren dapat disebabkan oleh masalah psikologis. Mengapa solusinya adalah dengan mengurangi ketegangan di telinga ketimbang menyelesaikan masalahnya sendiri? Bukankah yang penting adalah mengetahui akar masalah dan bertindak atas masalah itu, daripada mengobati gejala?

Pak Bayu, saya tidak berniat melecehkan ilmu pengobatan yang berkembang di Cina -misalnya, atau yang berbasis herba, atau lainnya, yang bersifat alternatif.

Namun dalam terapi ear candling ini saya tidak melihat manfaatnya. Terutama jika yang mengatakan adalah terapis ear candling sendiri (seperti yang telah saya kutipkan dari Sandra Yemm), setelah sebelumnya sempat mengatakan bahwa ear candling dapat mengeluarkan kotoran. Sandra Yemm sendiri adalah praktisi yang dikenal di negaranya, pak Bayu.

Saya percaya bahwa semua pengobatan bisa dilogika-kan, asalkan punya dasar yang kuat, dapat dibuktikan, dan hasilnya dapat diulang (reproducible). Barat, timur, konvensional, alternatif, atau tradisional sama saja. Dan ear candling ini bukan pengobatan.


Senin, 16-04-2007 09:13:11 oleh: Lita Mariana

Maaf, ada link yang lupa disertakan pada artikel.
Untuk 'The ear wax FAQ' di bagian 'sumber', harusnya ada hyperlink ke http://www.doctorhoffman.com/wax.htm

GUS WAI mengatakan...

Senin, 16-04-2007 12:58:54 oleh: GUS WAI

Mbak Lita, ini info yang sangat berguna. Candle wax itu cukup mahal lo.Kasihan kan pasien yang tidak tahu menahu tentang ini.

Lita Mariana mengatakan...

Senin, 16-04-2007 13:23:10 oleh: Lita Mariana

Oh ya? Saya malah tidak tahu-menahu tentang harga. Hanya lihat di Trans-7, Sabtu kemarin.
Itupun tidak menyebut harga. Hanya menjelaskan bahwa layanan ini ada di suatu detox center.
*jadi tambah kasihan*

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. KlinikHerbalis.- - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger